Tentang Anak LogoTentang Anak-Hamil dan ParentingCari info anak, lebih lengkap di aplikasi
Cara Menaikkan Berat Badan Anak: 5 Tips agar Asupan Lebih Optimal

Cara Menaikkan Berat Badan Anak: 5 Tips agar Asupan Lebih Optimal

  • Ditulis oleh Rizki Ayu W. P.
  • Ditinjau oleh -
  • Berat badan anak yang sulit naik tidak selalu berarti anak kurang makan; asupan energi, picky eating, hingga kondisi medis dapat berperan.
  • Mendukung kenaikan berat badan perlu dilakukan dengan makanan padat energi dan bernutrisi, jadwal makan teratur, serta pemantauan pertumbuhan.

Kondisi berat badan anak stagnan tentu bisa membuat orang tua khawatir. Namun, sebelum mencari cara menaikkan berat badan anak, penting untuk memastikan apakah berat badan si Kecil memang berada di bawah rentang yang sesuai atau pertumbuhannya mengalami perlambatan.

Berat badan yang stuck atau seret dapat disebabkan beberapa hal, di antaranya: asupan nutrisi tidak adekuat, peningkatan kebutuhan kalori atau energi, atau kondisi lainnya seperti silent disease pada anak. Menaikkan berat badan anak bukan soal menambah kuantitas makan saja, melainkan juga menambah kepadatan energi dan nutrisi dalam porsi yang sanggup dihabiskan anak. Karena itu, ada anak yang tampak makan banyak, tetapi berat badannya tetap sulit naik.

Perlambatan kenaikan berat badan juga bisa bersifat musiman. Analisis internal Tentang Anak terhadap lebih dari 745.000 data pertumbuhan anak di Indonesia selama 2022–2024 menemukan pola yang konsisten: kenaikan berat badan anak cenderung melambat, bahkan tidak mencapai target, pada periode Agustus–September. Hal ini dipengaruhi banyak faktor, seperti kegiatan sekolah anak yang padat (ujian tengah semester) dan penularan penyakit di bulan-bulan menjelang musim pancaroba atau kemarau panjang (flu, batuk, diare, dan lain sebagainya).

Meski demikian, pertumbuhan anak sebaiknya tidak dinilai dari satu angka saja. Dokter dapat melihat berat badan, tinggi atau panjang badan, usia, jenis kelamin, serta pola pertumbuhannya dari waktu ke waktu menggunakan kurva pertumbuhan. WHO menyediakan standar pertumbuhan anak berdasarkan indikator seperti berat badan menurut usia, berat badan menurut panjang/tinggi badan, dan BMI menurut usia, yang juga dapat diakses melalui aplikasi Tentang Anak.

Jika berat badan anak memang sulit bertambah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Mengapa Berat Badan Anak Susah Naik?

Ada berbagai faktor yang dapat membuat berat badan anak sulit bertambah, di antaranya:

Picky eating

Anak yang picky eater mungkin hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, sehingga variasi dan jumlah makanan yang masuk menjadi terbatas. Pilihan makanan yang sangat selektif juga dapat membuat kebutuhan energi dan nutrisi lebih sulit terpenuhi.

Sedang atau baru sembuh dari sakit

Saat sakit, nafsu makan anak dapat menurun sehingga asupan makanan ikut berkurang. Setelah sembuh, anak juga mungkin membutuhkan waktu untuk kembali ke pola makan sebelumnya.

Sudah makan banyak, tetapi "kenyang tanpa gizi"

Porsi yang terlihat banyak belum tentu padat nutrisi. Data UNICEF menunjukkan anak Indonesia usia 0–4 tahun memperoleh sekitar 43% asupan kalori hariannya dari makanan ultra-proses, dan konsumsi tinggi makanan ultra-proses berkaitan dengan asupan protein, serat, serta mikronutrien (zinc, magnesium, kalium, vitamin A, C, D, E, B12) yang lebih rendah. Anak bisa merasa kenyang, tetapi zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan belum tentu tercukupi.

Asupan mikronutrien belum tercukupi

Pertumbuhan tidak hanya membutuhkan kalori. Survei SEANUTS II (2025) mencatat defisiensi mikronutrien yang paling umum pada anak Indonesia adalah zat besi (20,3%), zink (11,9%), dan vitamin D (27,1%).

Zink termasuk yang paling berkaitan dengan pertumbuhan. Kekurangan zink dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, diare, dan kerontokan rambut pada anak. Sebuah systematic review dan meta-analisis terhadap 8 studi (1.586 anak sehat usia di atas 2 tahun) menemukan anak yang mendapat suplementasi zink memiliki berat badan rata-rata 0,51 kg lebih tinggi dan tinggi badan rata-rata 0,9 cm lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Perlu dicatat, ini adalah selisih rata-rata antarkelompok studi, bukan jaminan kenaikan pada setiap anak.

Kondisi tertentu

Berat badan yang sulit naik juga dapat berkaitan dengan masalah makan atau kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, jika berat badan anak terus stagnan, menurun, atau pertumbuhannya melambat, penting untuk mencari tahu penyebabnya bersama dokter.

5 Cara Menaikkan Berat Badan Anak dengan Sehat

Untuk meningkatkan berat badan anak, fokusnya bukan sekadar memberikan makanan sebanyak-banyaknya. Asupan energi perlu ditingkatkan dengan tetap memperhatikan kualitas dan kelengkapan nutrisi. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan peningkatan asupan energi pada anak dengan faltering weight, dengan tetap memperhatikan variasi makanan bergizi dan pemantauan pertumbuhan.
  1. Berikan makanan padat energi dan kaya nutrisi

Pilih makanan yang memberikan energi cukup dalam porsi yang sesuai kemampuan makan anak. Beberapa pilihan yang bisa dimasukkan ke menu antara lain alpukat, pisang, telur, ikan, ayam, ubi, dan kacang-kacangan. Kemenkes juga menyarankan pilihan makanan berkalori tinggi seperti telur, pisang, alpukat, ayam, dan salmon untuk membantu anak dengan berat badan kurang.

Untuk menambah kepadatan energi, orang tua juga dapat menggunakan bahan seperti minyak, butter, selai kacang, atau alpukat sesuai usia dan kondisi anak. Untuk menu dan olahan masakan sehari-hari, Ayah dan Bunda dapat mengakses di aplikasi Tentang Anak di fitur "Resep".

  1. Berikan porsi kecil tetapi lebih sering

Anak yang cepat kenyang mungkin kesulitan menghabiskan porsi besar sekaligus. Cobalah memberikan porsi yang sesuai kemampuan anak dengan jadwal makan dan camilan yang teratur.

Kemenkes menyarankan jadwal makan yang teratur, misalnya makan utama tiga kali sehari dengan makanan selingan di antaranya.

  1. Tambahkan sumber lemak sehat

Lemak merupakan sumber energi yang padat, sehingga menambahkan sumber lemak ke makanan dapat membantu meningkatkan kepadatan energi tanpa harus memperbesar porsinya secara berlebihan.

Contohnya adalah alpukat, minyak nabati, telur, ikan berlemak, kacang-kacangan, atau butter sesuai kebutuhan dan usia anak. Penambahan lemak juga termasuk strategi yang direkomendasikan Kemenkes untuk membantu anak dengan berat badan kurang.

  1. Pastikan sumber protein cukup

Selain kalori, anak membutuhkan protein untuk mendukung pertumbuhan dan berbagai fungsi tubuh. Lengkapi menu dengan sumber protein, seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, atau kacang-kacangan sesuai usia dan kebutuhan anak.

Jadi, jangan hanya berfokus pada makanan tinggi kalori. Usahakan makanan yang diberikan tetap beragam dan kaya nutrisi.

  1. Tidur yang cukup

Selain memperhatikan asupan dan pola makan, pastikan anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Tidur merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat yang mendukung proses pertumbuhan anak.

Anak yang aktif membutuhkan waktu istirahat yang seimbang. Jika aktivitas fisiknya tinggi tanpa diimbangi dengan istirahat yang cukup, kebutuhan energinya dapat semakin besar. Karena itu, selain memastikan asupan makanan mencukupi, atur waktu tidur anak agar kebutuhan istirahatnya terpenuhi. Untuk balita, tidur siang juga dapat menjadi bagian dari waktu istirahat hariannya.

Perlukah Anak Mengonsumsi Multivitamin?

Ketika peningkatan berat badan anak tidak adekuat, bukan hanya jumlah kalori yang perlu diperhatikan, tetapi juga kandungan vitamin dan mineral dalam pola makannya.

Vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi penting. Namun, multivitamin tidak dapat menggantikan makanan sebagai sumber energi, protein, serat, dan berbagai zat gizi lainnya. Suplemen sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti pola makan beragam.

Karena itu, konsumsi multivitamin harian dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya melengkapi nutrisi anak, terutama ketika pola makan belum selalu beragam.

Pilih Multivitamin Anak dengan Kandungan yang Lengkap

Jika ingin memberikan multivitamin, pilih produk yang memang ditujukan untuk anak dan perhatikan kandungan serta dosisnya. Produk dengan kombinasi beberapa vitamin dan mineral dapat menjadi pilihan praktis untuk membantu melengkapi asupan harian.

Selain kandungan, bentuk produk juga dapat dipertimbangkan. Multivitamin yang disukai anak dapat membantu orang tua membangun rutinitas konsumsi sesuai petunjuk penggunaan.

Hal ini dikarenakan bentuk gummy yang mudah dikunyah dan ditelan dikaitkan dengan kepatuhan konsumsi yang lebih baik karena membantu mengatasi keengganan menelan tablet, serta menutupi rasa dan aroma vitamin yang sering kurang disukai anak.

Expert Boost VitKids: 15 Vitamin dan Mineral dalam 1 Gummy

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah Expert Boost VitKids Gummy Multivitamin, dengan 15 vitamin dan mineral yang dikembangkan oleh dokter anak untuk membantu melengkapi asupan mikronutrien anak.
Kandungannya meliputi:
  • Vitamin A
  • Vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B7, dan B12
  • Vitamin C, D, E, dan K
  • Asam folat
  • Yodium
  • Zinc

Expert Boost VitKids hadir dalam bentuk gummy yang praktis untuk menjadi bagian dari rutinitas harian anak.

Formulanya juga tanpa bahan susu dan tanpa pewarna sintetis, serta menggunakan pewarna alami seperti kurkumin, klorofilin, dan beta-karotenal, tanpa pengawet. Kandungan zat gizinya telah teruji laboratorium sesuai takaran saji.

Cara konsumsinya adalah 1 gummy setelah makan siang setiap hari, sesuai petunjuk penggunaan produk.

Dengan 15 vitamin dan mineral, Expert Boost VitKids Gummy Multivitamin dapat membantu melengkapi kebutuhan mikronutrien harian anak. Multivitamin ini ditujukan untuk membantu melengkapi asupan vitamin dan mineral harian, bukan sebagai produk penambah berat badan anak.

Kapan Anak Perlu Konsultasi ke Dokter?

Jika berat badan anak sulit naik dalam waktu yang cukup lama, mengalami penurunan berat badan, pertumbuhannya tampak melambat, atau terdapat kesulitan makan maupun keluhan kesehatan lain, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak.

Dokter dapat menilai pertumbuhan anak berdasarkan data dari waktu ke waktu dan membantu mencari penyebab berat badan sulit naik sebelum menentukan strategi nutrisi yang sesuai.

Kesimpulan

Cara menaikkan berat badan anak bukan sekadar menambah porsi makan atau mengejar angka di timbangan. Yang lebih penting adalah memastikan anak mendapatkan cukup energi, nutrisi, dan waktu istirahat untuk mendukung pertumbuhannya.

Mulailah dengan memberikan makanan padat energi, bervariasi, dan kaya nutrisi, menambahkan sumber lemak sehat dan protein, memberikan porsi yang sesuai tetapi lebih sering bila diperlukan, serta membangun rutinitas makan yang konsisten.

Multivitamin dapat menjadi pelengkap untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral, tetapi tetap bukan pengganti makanan.

Dengan 15 vitamin dan mineral, Expert Boost VitKids Gummy Multivitamin dapat menjadi pilihan praktis untuk melengkapi asupan mikronutrien harian anak dengan formulasi tanpa bahan susu dan tanpa pewarna sintetis.

Sumber:

Tentang Anak. (2026). Seasons of vulnerability of child growth faltering in Indonesia: Evidence from 745,250 records. ESPGHAN 2026.

Kekalih, A., Chandra, D. N., Mirtha, L. T., Khouw, I., Wong, G., Sekartini, R., & SEANUTS II Indonesia Study Group. (2025). Dietary intakes, nutritional and biochemical status of 6 months to 12-year-old children before the COVID-19 pandemic era: The South East Asian Nutrition Survey II Indonesia (SEANUTS II) study in Java and Sumatera Islands, Indonesia. Public Health Nutrition, 28(1), e1. https://doi.org/10.1017/S1368980024001654

Tim Promkes RSST – RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. (2023). Bagaimana mengatasi berat badan kurang pada anak? Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

American Academy of Pediatrics. (2026, March 16). Dietary guidance. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight.

United Nations Children’s Fund (UNICEF). (2025). Feeding profit: How food environments are failing children: Child nutrition report 2025. UNICEF.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

United Nations Children’s Fund (UNICEF). (n.d.). Ultra-processed food vs healthy food. UNICEF Parenting.

Tamily

Artikel Terkait

Lihat Semua