Tentang Anak LogoTentang Anak-Hamil dan ParentingCari info anak, lebih lengkap di aplikasi
Riset Tentang Anak di ESPGHAN 2026: 2 dari 3 Anak Indonesia Belum Mendapat Pola Makan Layak

Riset Tentang Anak di ESPGHAN 2026: 2 dari 3 Anak Indonesia Belum Mendapat Pola Makan Layak

  • Ditulis oleh Rizki Ayu W. P.
  • Ditinjau oleh dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH, Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog, dan dr. Gisti Respati Riyanti, M.K.M.
Jakarta, 27 Juni 2026 — Indonesia adalah salah satu negara produsen terbesar untuk beras, ikan, telur, dan tempe, tetapi di balik kekayaan pangan tersebut, prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8%, jauh dari target 14,2% pada 2029, menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Bahkan, kesenjangan antarwilayah di Indonesia masih dapat mencapai 30–40%. Ironisnya, rata-rata anak stunting di Indonesia hanya mengonsumsi sekitar 11 gram protein hewani per hari. Jumlah tersebut bahkan belum mencapai kebutuhan protein harian yang direkomendasikan untuk anak usia 6 bulan–3 tahun, yakni 15–20 gram per hari berdasarkan Permenkes No. 28 Tahun 2019.
Temuan tersebut menjadi bagian dari riset yang dibawa Tentang Anak ke ESPGHAN 58th Annual Meeting, forum gastroenterologi, hepatologi, dan nutrisi anak paling bergengsi di dunia. Founder & CEO Tentang Anak, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH bersama tim peneliti akan mempresentasikan empat abstrak ilmiah terkait tantangan tumbuh kembang anak Indonesia, dengan dua di antaranya meraih predikat “highest scoring” dan “considered of the highest quality”.

Hampir 2 dari 3 Anak Indonesia Belum Penuhi Minimum Acceptable Diet

Salah satu penelitian yang mendapatkan predikat “considered of the highest quality” berjudul “The Minimum Acceptable Diet and Animal-Source Foods Consumption as Determinants of Wasting Among Children Aged 6–23 Months”. Penelitian ini menemukan bahwa:
  • Hampir 65% anak Indonesia masih belum memenuhi minimum acceptable diet atau pola makan layak sesuai rekomendasi. Artinya, hampir 2 dari 3 anak Indonesia masih tumbuh dengan kualitas asupan harian yang belum memadai.
  • Hampir 1 dari 2 anak belum mendapatkan pola makan yang cukup dan beragam. Sebanyak 46,2% belum memenuhi frekuensi makan minimum (minimum meal frequency/MMF), sementara 48,6% belum memenuhi keragaman pangan minimum (minimum dietary diversity/MDD).
  • Anak yang tidak mengonsumsi protein hewani, seperti telur atau daging, memiliki risiko hampir 3 kali lipat menjadi wasting (gizi kurang).

Faktor Musim Pengaruhi Kerentanan Tumbuh Kembang Anak

Sementara itu, predikat “highest scoring” diberikan untuk presentasi e-poster berjudul “Seasons of Vulnerability of Child Growth Faltering in Indonesia: Evidence from 745,250 Records”. Dari analisis terhadap 745.250 data anak Indonesia sepanjang 2022–2024, penelitian ini menemukan pola konsisten setiap tahunnya:
  • Kenaikan berat badan anak tercatat paling rendah pada Agustus–September, menunjukkan bahwa faktor musiman juga berperan dalam kerentanan tumbuh kembang anak.
  • Periode ini bertepatan dengan puncak musim kemarau yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan alergi, serta masa transisi menuju musim hujan yang identik dengan meningkatnya risiko infeksi penyakit menular, seperti demam berdarah.

"Ketika hampir 40% kalori harian balita Indonesia masih berasal dari makanan ultra-proses, atau ketika daerah penghasil ternak seperti Nusa Tenggara Timur justru memiliki angka prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, kita melihat bahwa tantangan nutrisi bukan sekadar ada atau tidaknya makanan. Tantangannya adalah bagaimana anak dan keluarga dapat mengakses pilihan gizi yang lebih baik setiap hari. Karena itu, kami ingin membawa realita anak Indonesia ke ruang diskusi global, bahwa tantangan tumbuh kembang juga dibentuk oleh akses, lingkungan, dan kondisi hidup sehari-hari,” ujar dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH.
Melalui partisipasi di ESPGHAN 2026, Tentang Anak berharap semakin banyak perhatian global tertuju pada tantangan dan potensi tumbuh kembang anak Indonesia, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak riset dan inovasi yang relevan bagi generasi mendatang. Tak hanya itu, Tentang Anak percaya, pengalaman dan data dari Indonesia dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta solusi kesehatan anak yang lebih inklusif di berbagai belahan dunia.

Tentang Anak

Didirikan pada 2020, Tentang Anak merupakan ekosistem parenting tepercaya yang telah menjangkau lebih dari 5 juta keluarga di Indonesia. Ekosistem ini dikembangkan untuk menjawab tantangan nyata tumbuh kembang anak, di antaranya:

  • Expert Boost, suplemen anak berbasis riset untuk mengatasi hidden hunger.
  • Expert Care, produk perawatan kulit anak berbasis sains yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan kulit anak yang masih sensitif hingga usia lima tahun.
  • Tentang Anak, buku edukasi anak yang dikembangkan bersama dokter, psikolog, dan praktisi anak usia dini untuk mendukung fase krusial perkembangan otak di awal kehidupan.
Tentang Anak juga berkolaborasi dengan berbagai kementerian serta lembaga, termasuk Kementerian Kesehatan RI, BKKBN RI, Kemendikdasmen RI, BPOM RI, dan KemenPPPA RI, dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Tamily

Artikel Terkait

Lihat Semua