
Anak Tantrum: Cara Mengatasinya dengan Mengenalkan Emosi sejak Dini
- Ditulis oleh Rizki Ayu W. P.
- Ditinjau oleh Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog & Fadliah Istivani, Expert Boost & Tentang Anak Brand Manager
Tantrum merupakan bagian yang umum dalam perkembangan anak usia dini. Namun, karakteristik tantrum tertentu dapat menjadi sinyal yang perlu diperhatikan. Penelitian longitudinal yang diterbitkan dalam jurnal Development and Psychopathology menemukan bahwa beberapa karakteristik tantrum pada anak usia prasekolah berkaitan dengan risiko masalah psikologis di kemudian hari. Studi terhadap 299 anak usia 3–6 tahun ini menemukan bahwa perilaku menyakiti diri saat tantrum merupakan salah satu karakteristik yang lebih kuat memprediksi masalah psikologis pada masa berikutnya.
Tantrum dapat muncul, salah satunya ketika anak kewalahan dengan emosinya, sementara ia belum memiliki kata-kata atau keterampilan untuk menyampaikannya. Karena itu, membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola emosinya sejak dini menjadi bagian penting dari pendampingan orang tua dan dalam mencegah tantrum pada anak.
Upaya ini dapat dilakukan melalui buku emosi anak, yang menghadirkan cerita dan ilustrasi untuk membantu si Kecil mengenali perasaan seperti marah, sedih, senang, dan takut. Dengan membaca bersama, Ayah dan Bunda dapat membuka percakapan tentang emosi secara empatik sekaligus mendampingi anak belajar mengekspresikan perasaannya dengan lebih sehat.
Bagaimana Cara Mengenalkan Emosi kepada Anak sejak Usia 1 Tahun?
Membantu anak memberikan nama emosi yang mungkin sedang dirasakan anak dapat menjadi bagian dari proses belajar memahami emosi dan mengomunikasikan kebutuhannya.
Contohnya, AyBun dapat mengatakan:
"Kamu senang sekali karena bisa bermain bersama teman, ya?"
- "Kamu sedih karena mainannya rusak?"
- "Kamu marah karena masih ingin bermain?"
Ketika anak belum terampil menyampaikan keinginan dengan kata-kata, ia mungkin menunjukkan frustrasi melalui perilaku tertentu. Karena itu, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih dan menemukan cara mengungkapkan perasaan yang efektif secara bertahap.
AyBun dapat mengajak anak mencoba kalimat sederhana, seperti "Aku marah", "Aku takut", atau "Aku masih mau bermain".
Pendampingan ini tidak membuat anak langsung mampu mengendalikan emosinya, karena proses tersebut membutuhkan waktu dan dukungan yang konsisten dari orang dewasa.
Mengenalkan emosi juga berarti membantu anak memahami bahwa ia boleh merasa marah atau kecewa, tetapi tidak semua perilaku dapat diterima, terutama yang menyakiti diri sendiri ataupun orang lain.
Contohnya, orang tua dapat mengatakan, "Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul. Kalau marah, kamu bisa bilang kepada Bunda."
Pendekatan yang memvalidasi perasaan sambil tetap menetapkan batasan, membantu orang tua mendampingi perkembangan emosional anak, tanpa menghakimi perasaannya.
Bagaimana Buku Emosi Anak Membantu Mengatasi Tantrum?
Buku emosi anak dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk mengenalkan berbagai perasaan melalui cerita, ilustrasi, dan percakapan bersama. Dengan pendampingan orang tua, anak mendapat kesempatan untuk mengenali emosi, membicarakan pengalamannya, dan belajar mengekspresikan perasaan secara sehat.
Melalui cerita, anak dapat mengenali pengalaman yang mirip dengan kesehariannya. AyBun dapat mengajak anak berdiskusi dengan pertanyaan sederhana, seperti, "Menurut kamu, bagaimana perasaan tokoh ini?" atau "Apa yang membuatnya marah?"
Buku bertema emosi dapat menjadi titik awal untuk membicarakan perasaan dan pengalaman yang mungkin sulit diungkapkan anak dengan kata-kata.
Ekspresi wajah tokoh dalam buku dapat digunakan untuk membicarakan perbedaan antara marah, sedih, takut, dan senang. Saat membaca bersama, Ayah dan Bunda bisa menunjuk ilustrasi sambil berkata, "Lihat, alisnya berkerut dan wajahnya memerah. Menurut kamu, tokoh ini sedang merasa apa?"
Aktivitas ini memberikan kesempatan bagi anak untuk menghubungkan ekspresi yang dilihatnya dengan kata-kata yang menggambarkan emosi.
Anak mungkin belum siap menceritakan perasaannya sendiri. Namun, ia bisa mulai berdiskusi melalui pengalaman tokoh cerita.
Misalnya, setelah membaca kisah tentang tokoh yang kecewa, AyBun dapat bertanya, "Adik pernah merasa seperti ini juga?"
Mendengarkan secara aktif dan mengakui perasaan anak merupakan bagian dari komunikasi suportif yang direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics.
Bagaimana Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Empati?
Saat anak tantrum, respons yang paling membantu adalah tetap tenang, menjaga keselamatannya, dan mengakui perasaannya tanpa menuruti semua keinginannya. Respons yang konsisten dari waktu ke waktu juga penting, karena anak belajar dari cara orang tua menanggapi.
Ketika anak tantrum, fokuslah untuk menjaga keselamatannya dan membantunya kembali tenang. Berikut beberapa langkah yang bisa Ayah dan Bunda coba.
Akui perasaan anak tanpa harus memenuhi semua keinginannya. Contohnya, "Adik kecewa karena waktu menontonnya sudah selesai, ya. Bunda mengerti Adik masih ingin menonton, tetapi sekarang waktunya mandi."
Pendekatan ini membantu anak merasa didengar, sekaligus memahami batasan yang berlaku.
Setelah anak mulai tenang, ajak ia melakukan aktivitas lain, seperti menggambar, bermain, atau membaca buku bersama. Berikan pilihan yang sesuai dengan minatnya tanpa memaksakan anak untuk langsung beralih.
Saat anak sudah tenang, ajak ia mengenali apa yang dirasakan. Misalnya, "Tadi, Adik marah karena masih ingin menonton."
Anak membutuhkan latihan berulang dan pendampingan yang konsisten untuk belajar mengelola emosi.
Rekomendasi Buku Emosi Anak
Ikuti pengalaman Swara, Aluna, Nada, dan Gema saat bermain di taman rekreasi sambil mengenal 12 emosi dasar dan kompleks. Melalui cerita yang dekat dengan keseharian anak, AyBun dapat mengajak si Kecil membicarakan perasaan tokoh, mengenali ekspresi wajah, dan memahami situasi yang memunculkan emosi tertentu.
Fitur interaktifnya juga memberikan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan. Dilengkapi catatan untuk orang tua, buku ini juga dapat menjadi panduan untuk memulai percakapan emosional dengan lebih empatik.
Bagi orang tua yang mencari buku emosi anak untuk usia 3 tahun ke atas, buku ini dapat menjadi pilihan untuk mendampingi si Kecil belajar mengenali emosi sambil bermain.
Setiap emosi memiliki peran dalam pengalaman anak sehari-hari. Melalui boardbook seri Emosi dari Tentang Anak, orang tua dapat membantu si Kecil mengenali dan memahami empat emosi dasar, yaitu marah, sedih, senang, dan takut.
Dikembangkan oleh dokter anak dan psikolog anak, seri buku ini dapat menjadi media untuk mengenalkan emosi kepada anak usia 1 tahun ke atas melalui cerita sederhana dan percakapan bersama orang tua. Dengan pendampingan yang hangat, si Kecil dapat mulai belajar mengenali perasaannya dan mengekspresikannya dengan cara yang lebih sehat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Buku merupakan satu media yang dapat digunakan secara luas. Namun, pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan, minat, dan ketertarikan anak agar dapat memberikan manfaat optimal di masing-masing tahap usia. Boardbook dengan cerita sederhana cocok untuk anak usia 1 tahun ke atas, sedangkan cerita bergambar yang lebih panjang dan interaktif cocok untuk anak usia 3 tahun ke atas. Pada Tentang Anak, Boardbook Seri Emosi ditujukan untuk usia 1 tahun ke atas dan Kenali 10+ Emosi Sambil Bermain! untuk usia 3 tahun ke atas.
Tantrum merupakan hal yang umum pada anak usia dini. Pada anak usia 18 bulan–3 tahun, tantrum mungkin terjadi setiap hari, sedangkan setelah usia 3 tahun, tantrum harian cenderung lebih jarang terjadi. Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional jika tantrum sangat sering, berlangsung lebih lama dari yang diharapkan sesuai usia, melibatkan perilaku agresif yang membahayakan, menyakiti diri sendiri, atau sulit mereda.
Penelitian menunjukkan keterkaitan, tetapi belum membuktikan sebab-akibat. Studi lanjutan terhadap 315 anak di Nova Scotia, Kanada, yang dimuat dalam JAMA Pediatrics (2024) menemukan bahwa penggunaan tablet harian yang lebih tinggi pada usia 3,5 tahun berkaitan dengan meningkatnya kemarahan dan frustrasi setahun kemudian. Peneliti juga mencatat bahwa anak yang lebih sulit mengatur emosi cenderung lebih sering diberi layar, sehingga hubungannya dapat berlangsung dua arah.
Kesimpulan
Tantrum merupakan bagian yang umum dalam perkembangan anak, tetapi karakteristik tertentu, seperti perilaku menyakiti diri, perlu diperhatikan karena berkaitan dengan risiko masalah psikologis di kemudian hari. Tantrum juga dapat muncul ketika anak kewalahan dengan emosinya dan belum mampu mengungkapkan perasaan dengan baik. Karena itu, membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola emosinya sejak dini menjadi bagian penting dari pendampingan orang tua.
Melalui Kenali 10+ Emosi Sambil Bermain! dan Boardbook Seri Emosi dari Tentang Anak, AyBun dapat mendampingi si Kecil mengenali berbagai emosi dan mulai belajar mengelolanya. Sebab, setiap perasaan layak dipahami, dan anak membutuhkan dukungan orang tua untuk belajar mengekspresikannya dengan aman.
- Hoyniak, C. P., Donohue, M. R., Quiñones-Camacho, L. E., Vogel, A. C., Perino, M. T., Hennefield, L., Tillman, R., Barch, D. M., & Luby, J. L. (2023). Developmental pathways from preschool temper tantrums to later psychopathology. Development and Psychopathology, 35(4), 1643–1655. https://doi.org/10.1017/S0954579422000359
- Raising Children Network, “Tantrums: Why They Happen and How to Respond”, https://raisingchildren.net.au/toddlers/behaviour/crying-tantrums/tantrums
- American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. (n.d.). Temper tantrums. Facts for Families. https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Temper_Tantrums-136.aspx
- Fitzpatrick, C., dkk. (2024). Studi tentang penggunaan tablet dan kemarahan/frustrasi pada anak prasekolah. JAMA Pediatrics (terbit 12 Agustus 2024). Dikutip melalui ringkasan HealthDay: https://www.powershealth.org/about-us/newsroom/health-library/2024/08/12/more-toddler-screen-time-brings-more-tantrums-study-finds (rujukan primer perlu ditambahkan)
- American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org
- ZERO TO THREE. (2025, February 22). 24–36 months: Social-emotional development. https://www.zerotothree.org/resource/24-36-months-social-emotional-development/
